Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

  MENJADI BUDAK KEINGINAN Oleh: Zainal A. Hanafi   Modernisme banyak memberi kita pengaruh dan tawaran. Dorongan untuk menjadi orang l...

 

MENJADI BUDAK KEINGINAN

Oleh: Zainal A. Hanafi

 

Modernisme banyak memberi kita pengaruh dan tawaran. Dorongan untuk menjadi orang lain dan menjadi seperti yang orang lain lakukan masih kuat. Cantik, anggun, tampan, gagah, cara berpakaian dan juga cara mengkonsumsi apa pun yang mereka inginkan. Semakin banyak semakin banyak pula kebutuhan. Sebutan ‘banyak’ apakah yang dimaksud?

‘Banyak’ bisa jadi dia memiliki kekuasaan yang melimpah, bisa juga harta, bisa juga pengetahuan yang mereka peroleh. Namun, hal yang benar-benar perlu kita miliki adalah mempunyai banyak pengetahun. Semakin banyak pengetahuan semakin hauslah kita untuk mencari pengetahuan yang lain, yang tidak terbatas. Hal itu bermakna positif bagi kehidupan kita sendiri yang pasti berubah-ubah. Tapi kadang juga hal itu dimanfaatkan oleh orang lain sebagai pengakuan bahwa dirinya tidak mampu dalam bidang tertentu sehingga mengharuskan orang yang punya pengetahuan di bidangnya untuk melakukannya. Sedangkan di antara ‘banyak’ yang keduanya cenderung disalahgunakan, bahkan tidak terkontrol.

Kita pasti tahu betapa banyak persoalan negeri ini dikuasai oleh orang yang memiliki modal kekuasaan (kalangan elit). Mereka menggunakan itu untuk menindas satu sama lain, yang modalnya lemah, yang tidak bisa melawan. Kita juga pasti tahu banyak orang kaya yang juga selalu merasa kurang, bahkan jika keinginannya tidak tercapai mereka bisa meminjam uang sesukanya. Persoalan ini bukan berarti mimicu pendapat ‘suka-suka merekalah mau ngapain, wong mereka yang punya duit’, tapi alangkah baiknya jika apa-apa yang mereka punya digunakan semestinya. Begitu pun kadang masih memicu pernyataan tersebut.

Barang-barang yang tak ternilai harganya adalah yang kamu syukuri. Sebab apa pun bentuknya, akan habis juga ditelan waktu. Segala kepemilikan yang dimiliki seseorang bersifat sementara. Kita mesti tahu bagaimana menggunakan itu semua dan itu harus dilakukan secara sadar. Memilah barang apa yang paling dibutuhkan, pasangan mana yang benar kamu yakini, sikap apa yang kamu lakukan ke orang lain, dan apa pun bentuk perilaku semua bermuara pada pemberian.

Ini jelas memungkinkan hal lain terjadi begitu saja. Kecepatan teknologi semakin merambah ke dalam banyak waktu kita. Menjadi budak-budak apa yang masa sekarang tawarkan. Produk baru, profesi paling bagus, desain interior super mewah, dan segala fenomena yang muncul berkat kecanggihan. Kita mesti melihat bagaimana kita menjadi agen, menjadi waktu itu sendiri. Memperlambat atau mengikuti arus yang disediakan dengan kecepatan tinggi. Cara pandang kita mesti berubah bagaimana hal itu dibutuhkan dalam hidup bukan berarti kita harus melakukan ini itu untuk melengkapi kebutuhan.

 

Biografi Penulis


Zainal Abidin Hanafi merupakan penulis asal Pamekasan. Penulis aktif dalam kegiatan sosial maupun literasi. Update tentang dirinya bisa melalui instagram @zainala.hanafi

  BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG TOXIC RELATIONSHIP ? Oleh: Muallifa Pernah merasa tidak nyaman dengan sebuah pertemanan? Pernah merasa ingin men...

 BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG TOXIC RELATIONSHIP?

Oleh: Muallifa


Pernah merasa tidak nyaman dengan sebuah pertemanan? Pernah merasa ingin menjauh dari teman yang tidak sama dengan diri kita sendiri? Padahal pertemanan akan membuat kita terlatih untuk belajar komunikasi, berinteraksi dengan orang baru. Selain itu membangun pertemanan tentu kita akan memilih dengan orang yang sama seperti kita. Rasa nyaman membuat seseorang akan berlama-lama dengan kita. Apalagi sevisi dan semisi. Juga bisa diajak kerjasama dengan baik serta saling mendukung. Pertemanan semacam ini adalah dambaan bagi semua orang.

Ucapan melangkah bersama akan bergerak lebih maju nampaknya begitu sepadan dengan berbagai persoalan hari ini. Sebab sesuatu yang dikerjakan bersama akan terasa ringan, bahkan meskipun dikerjakan sendiri jika ada yang menemani, menjadi support system akan terasa jauh lebih bermakna. Dalam ranah pertemanan, seseorang akan merasa pekerjaannya lebih bermakna karena mendapatkan dukungan, kasih sayang serta dorongan positif. Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang mengalami toxic relation dalam pertemanan.

Millennial pasti tidak asing dengan toxic relathionship. Sebutan yang seringkali menjadi alasan menggema bagi sebagian kalangan yang entah dalam hubungan suami istri, perihal pasangan, pertemanan, bahkan dalam status rekan kerja. Kalau kita lihat toxic relathionship itu berasal dari padanan bahasa inggris, yang artinya hubungan beracun. Hubungan jenis ini memberikan dampak negatif bagi kehidupan, lingkungan, serta konstruksi pemikiran kita dalam memangdang sesuatu.

Sebutan ini biasanya diberikan kepada hubungan yang memberikan dampak negatif terhadap orang lain. Bisa dalam artian  ketika memberikan label kepada teman yang mengajak hal negatif, selalu menolak keberhasilan kita, cemburu saat melihat keberhasilan kita, dan berbagai bentuk yang tidak memberikan kedamaian diri ketika memilih hubungan yang toxic.

Dampak toxic relathionship dalam pertemanan ini sangat besar. Kalau kita lihat perspektif diri kita sendiri. Kita akan mengalami gangguan kesehatan mental. Dihadapkan dengan berbagai persoalan, berjuang untuk mendapatkan sesuatu lalu tiba-tiba temanmu bukan malah mendukung justru mematahkan semangat. Kamu akan merasa rapuh, tidak semangat dan tidak bisa bangkit dari keterpurukan.

Tanpa kita sadari, terkadang orang dekatlah yang menjadi musuh besar kita, sebab jika bukanlah sebuah kebaikan yang diberikan satu sama lain, bukan kebaikan pula yang didapatkan, khususnya dalam pertemanan. Teman  yang toxic memberikan dampak negatif kepada diri kita. Biasanya pertemanan macam ini tidak pernah mengapresiasi hal-hal baik meskipun kecil dalam hidupmu, egois demi kepentingan dirinya sendiri. Padahal hubungan yang baik itu tejalin dua arah. Antar yang satu melengkapi dengan yang lain, saling membantu dan saling menjaga sesama.

Dalam memilih teman, Alghazali menganjurkan tentang pentingnya untuk tidak salah memilih teman apalagi bagi yang sedang menuntut ilmu. Apabila kita terjebak di lingkungan yang toxic, kita tidak akan berkembang dan mengembangkan kemampuan diri serta soft skill yang dimiliki.

“Berteman dengan penjual parfum, kita akan kecipratan wanginya. Begitupula jika berteman dengan penjual ikan asin, akan kecipratan baunya,” kalimat sederhana ini masih menjadi landasan untuk pandai-pandai memilih teman dan bergaul. Orang yang akan kita jadikan teman biasanya akan menjadi bagian dari hidup kita, mengetahui berbagai keseharian yang kita lakukan, termasuk hal privasi. Dalam artian, mimpi, rencana masa depan, keinginan serta tujuan-tujuan kecil yang akan dilakukan.

Teman yang baik, akan membawa kita dalam kebaikan. Hal ini sesuai dengan HR. Dawud no. 5682 dan at-Tirmidzi no. 1163 bahwa “mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya,kata baik tentunya setiap orang memiliki perspektif masing-masing dalam menilai.

Berteman dengan orang pandai juga menjadi anjuran Al-Ghazali dalam memilih teman. Sebab dengan berteman dengan orang pintar, kita akan terpengaruh pandai. Sebab kebiasaan yang dimiliki seseorang yang pandai tentunya berbeda. Kata Al-Ghazali, tidak ada manfaatnya berteman dengan orang bodoh. Pandai dan bodoh juga relatif.

Perspektif masing-masing orang sangatlah berbeda. Meskipun demikian, ketika seseorang pandai dalam ilmu agama, ia akan senantiasa menuntun dalam kebaikan, memberikan nasehat baik untuk kebaikan temannya di masa yang akan datang. Saling memberikan semangat dalam melakukan kebaikan, serta mencegah sesuatu yang tidak baik untuk temannya menjadi atensi dari teman yang baik.

Adapun kewajiban seseorang dalam berteman menurut Syekh Nawawi yaitu membantu teman yang sedang mengalami kesusahan, tidak meninggalkan ketika sedang susah baik dengan bantuan otot, harta, ataupun pikiran. Kewajiban lainnya dalam berteman yaitu tidak membuka aib teman yang lain, menjaga rahasia adalah kewajiban dalam berteman.

Teman yang toxic akan melakukan sesuatu yang tidak saling mendukung satu sama lain. Ketika ada konflik salah satunya akan berusaha merusak yang lain, di mana ada persaingan, rasa tidak hormat dan kurangnya kerjasama. Padahal kewajiban seorang teman saling memberikan energi positif untuk teman lainnya. Tidak saling menghakimi satu sama lain.

Sebuah hubungan pasti mengalami pasang surut, tidak terkecuali juga dengan pertemanan. Tidak selamanya berteman akan merasakan baik-baik saja. Akan tetapi, komitmen untuk saling menjaga kepercayaan satu sama lain dalam keadaan suka ataupun duka serta mendukung penuh terhadap kebaikan merupakan hal utama untuk dilakukan dalam sebuah pertemanan.

Carilah teman yang bisa menghargai perbedaan, kekurangan yang kamu miliki, menyimpan segala aib dan menjadi satu alasan dari banyak alasan untuk berbuat baik, melakukan kebaikan serta memberikan dampak bagi sekitar dengan hal-hal positif.


Biografi Penulis


Muallifa adalah seorang Mahasiswi asal Sampang dan author dari buku inspiratif "Mahasiswa Baper NO! Produktif YES!"



JIHAD SANTRI DAN PENGEMBANGAN MENTAL SPIRITUAL Oleh: Muslihah Pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dan berpengaruh...

JIHAD SANTRI DAN PENGEMBANGAN MENTAL SPIRITUAL

Oleh: Muslihah

Pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dan berpengaruh terhadap perubahan sosial. Melalui pendidikan, diharapkan bisa menghasilkan penerus yang mempunyai karakter kokoh, penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Namun, banyak pihak menilai bahwa karakter yang demikian ini justru mulai sulit ditemukan pada siswa-siswa sekolah. Banyak di antara mereka yang terlibat tawuran, narkoba dan sebagainya. Keadaaan demikian menyentak kesadaran para pendidik dalam menegaskan kembali pendidikan karakter.

Salah satu lembaga pendidikan Islam yang merupakan subkultur masyarakat Indonesia adalah pesantren. Pesantren salah satu institusi yang unik dengan ciri khas yang sangat kuat dan lekat. Peran yang diambil adalah upaya-upaya pencerdasan bangsa yang secara turun temurun tanpa henti. Pesantrenlah yang memberikan pendidikan pada masa-masa sulit, masa perjuangan melawan kolonial dan pusat studi yang tetap survive sampai sekarang.

Tujuan pendidikan pesantren menurut Zamakhsyari Dhofier, bukanlah mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi. Tetapi ditanamkan pada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan. Oleh karena itu, sebagai salah satu lembaga pendidikan, pesantren juga mempunyai tanggung jawab yang tidak kecil dalam membentuk karakter para santri.

Secara etimologis, Koentjaraningrat menyatakan bahwa kata budaya berasal dari kata budhayah, bahasa Sanskerta, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat dikatakan “hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal”. Karena ia berkaitan dengan budi dan akal manusia, maka bagiannya pun menjadi demikian luas. Koentjaraningrat kemudian menyatakan bahwa kebudayaan paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu: 1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma peraturan dan sebagainya. 2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas, kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. 3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Berdasarkan pengertian tentang budaya yang demikian, maka setiap individu, komunitas, dan masyarakat melalui kreasinya pun bisa menciptakan kebudayaan tertentu ketika kreasi yang diciptakan itu kemudian secara berulang, bahkan menjadi kesepakatan kolektif. Maka pada saat itu, kreasi telah menjelma menjadi sebuah budaya. Lalu, salah satu komunitas yang mampu membentuk budaya yang khas adalah pesantren.

Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan, dan pendidikan lain yang sejenis. Para peserta didik di pesantren disebut santri yang umumnya menetap dan tempatnya dinamakan pondok.

Dalam perkembangannya, pondok pesantren juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu bentuk kelemahan berupa tingkat kedisiplinan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengoptimalkan peran serta fungsi pesantren, termasuk menciptakan kebijakan tertentu yang dituangkan dalam bentuk aturan yang harus dilaksanakan oleh para santri. Diharapkan santri dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan teratur dan mengikuti tata tertib yang berlaku.

Namun pada kenyataannya masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh santri. Gunarsa mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran kedisiplinan siswa antara lain keterlambatan, bolos, perkelahian, dan menyontek. Maka fenomena-fenomena tersebut menunjukkan masih rendahnya kedisiplinan di pondok pesantren. Perilaku tidak disiplin di pondok pesantren banyak dilakukan oleh santri dalam fase remaja.

Menurut Erickson kalangan remaja termasuk dalam tahap perkembangan identitas dan kebingungan identitas (identity versus identity confusion). Pada tahap ini remaja dihadapkan dengan banyak peran baru dan status orang dewasa. Jika remaja menjajaki peran-perannya dengan cara sehat dan tiba pada suatu jalan yang positif untuk diikuti, maka identitas positiflah yang dicapai.

Tata tertib yang diterapkan di pondok pesantren meliputi peraturan terkait kegiatan akademik maupun peraturan yang mengatur kegiatan harian santri, seperti kewajiban datang tepat waktu ke sekolah, mengenakan seragam yang sesuai, kewajiban berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris dalam kegiatan harian, larangan membawa dan menggunakan barang elektronik, kewajiban melaksanakan salat berjama’ah di Masjid, larangan keluar asrama tanpa perizinan dan lain sebagainya.

Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di indonesia, kiprahnya jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. Ribuan pesantren yang tersebar luas di kawasan Nusantara ini telah berhasil mengisi sebagian kekosongan pendidikan di Indonesia. Lembaga pendidikan ini memiliki khazanah sejarah tersendiri karena sudah ada lama sebelum lahirnya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Lembaga pendidikan Islam ini begitu besar kontribusinya terhadap anak bangsa sebagai bentuk keikutsertaan mereka dalam memajukan bangsa khususnya dalam dunia pendidikan sehingga tidak diragukan lagi karena telah banyak menghasilkan para tokoh formal atau non formal yang berkecimpung dalam banyak aspek kehidupan kemasyarakatan atau birokrasi pemerintahan.

Eksistensi pesantren tidak diragukan lagi di masyarakat, bahkan sampai sekarang peran itu terus ditingkatkan bukan saja mencerdaskan anak bangsa, tetapi telah menyelenggarakan pendidikan formal mulai pendidikan pra Sekolah sampai pendidikan tinggi. Sampai akhir abad 20, sistem pendidikan pesantren terus mengalami perkembangan.

Pesantren  tidak  lagi hanya  mengajarkan  ilmu  agama  tetapi  juga  mengajarkan ilmu-ilmu umum. Selain itu juga muncul pesantren-pesantren yang mengkhususkan ilmu-ilmu tertentu, seperti  khusus untuk tahfidz al-Qur'an, iptek, keterampilan atau kaderisasi gerakan-gerakan Islam. Perkembangan model pendidikan di pesantren ini juga didukung dengan perkembangan elemen-elemennya.

Jika pesantren awal cukup dengan Masjid dan asrama, pesantren modern memiliki kelas-kelas, dan bahkan sarana dan prasarana yang cukup canggih. Dengan tidak meninggalkan tradisi abad 21  ini,  pesantren terus  mengadakan pembaharuan-pembaharuan  baik  di  bidang  kelembagaan  maupun  manajemennya. Menyadari bahwa bangsa adalah kumpulan dari manusia, imaji, wilayah dan tata nilai  (values)  yang  beragama  dan  plural.  Sedangkan  mental  adalah  identitas  sebuah bangsa. 

Maka mental harus menjadi pondasi nilai pokok dalam membangun  peradaban suatu bangsa.  Mental yang terlahir dari sucinya pikiran  (aql),  bersihnya hati  (qalb),  dan beningnya  jiwa  (nafs).  Sebab  maju  dan  terbelakangnya  suatu  bangsa  ditentukan  oleh nilai-nilai  dan  mental  penduduk-Nya.  Mental  yang  dimaksud  dalam  Islam  adalah  akhlak.  Untuk  menjadi  seseorang berakhlak  diperlukan  proses  agar  menjadi  manusia  paripurna,  proses itu pendidikan namanya. 

Pendidikan  yang  mampu  mencetak  individu  berakhlak  mulia  (good character),  saleh  secara  individu,  saleh  sosial adalah melalui pesantren. Meskipun pendidikan modern telah masuk ke  pesantren,  akan  tetapi  tidak  boleh  menggeser tradisinya, yakni gaya kepesantrenan. Sebaliknya, kehadiran lembaga  pendidikan  formal  ke  dalam  pesantren  dimaksudkan  untuk memperkokoh  tradisi  yang  sudah ada, yaitu pendidikan model pesantren.

Adaptasi adalah suatu bentuk  keniscayaan  tanpa  menghilangkan  ciri  khas  yang  dimiliki  pesantren  (al-Muhâfazhah  `ala  al-Qadîm  as-Shâlih wa al-Akhdzu bi al-Jadîd al-Ashlah). Tradisi yang dimaksud untuk selalu  dipertahankan  oleh  pesantren  adalah  pengajaran  agama  secara  utuh. Pendidikan pesantren sejak awal memang bukan dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil pada sektor-sektor modern sebagaimana  diangankan  sekolah  dan  universitas  pada umumnya.

Melainkan  diorientasikan  kepada para  santri supaya dapat  memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran  Islam  secara  baik karena berusaha  mengantarkan  para  santri  menjadi  alim  dan  saleh,  bukan menjadi pegawai atau pejabat. Peran pesantren sangat urgen sekaligus merupakan tempat kaderisasi Ulama, pesantren sangat berperan untuk membentuk pribadi yang baik khususnya dalam hal akhlak. Karena sudah kita saksikan sendiri banyak kenakalan remaja yang marak seperti yang sudah disebutkan.

Jangan sampai generasi muda indonesia rusak karena dekadensi moral. Dengan konsep revolusi mental yang ada dipesantren itu semua akan menjadikan pribadi yang baik dan nantinya akan berdampak pada peradaban bangsa itu sendiri. Harus selalu diingat, bahwa pesantren harus tetap menjadi “rumah” dalam  mengembangkan  pertahanan  mental  spiritual  sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan masa. Karena bangsa yang maju bukan hanya pendapatan perkapitanya tinggi akan tetapi bangsa yang maju adalah bangsa yang rakyatnya memiliki akhlak yang baik.


Biografi Penulis

Muslihah lahir di Sampang, 30 Juli 2000. Kuliah di IAIN Madura, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Sekarang tingga di Desa Panyerangan, Kec. Pangerengan, Sampang. Email: muslihah6373@gmail.com Instagram: @muzlihachleonis


Setiap Orang Punya Warna Oleh: Aang Riana Dewi Setiap orang punya cara terbaik sesuai versi dirinya masing-masing untuk memberikan kontrib...

Setiap Orang Punya Warna
Oleh: Aang Riana Dewi


Setiap orang punya cara terbaik sesuai versi dirinya masing-masing untuk memberikan kontribusi terbaik kepada Negeri. Tidak perlu memaksa sama jika menjadi beda membuat semuanya lebih indah berwarna.

Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma. Maka dari itu juga banyak cara berkontribusi kepada Negeri sesuai kapasitas dan apa yang sudah Allah anugerahkan dalam diri. Sebelum menemukan jati diri, sempat ada rasa insecure ingin menyamai apa yang sudah orang lain lakukan. Saat orang lain berkontribusi dengan membuat gerakan sosial, seolah dalam diri “memaksa” untuk melakukan hal yang sama padahal jelas kemampuan dan kapasitas tiap pribadi unik dan berbeda.

Masa pencarian jati diri seseorang akan dipertemukan dengan beragam hal tidak terduga yang kadang membuat shock, merasa tidak mampu, takut dan perasaan perasaan lainnya. Selama proses ini, seseorang juga akan dipertemukan dengan beberapa realita yang akan mempengaruhi cara berpikir, mimpi, dan target hidupnya. Tidak jarang dalam proses ini seseorang beberapa kali terombang ambing dalam menentukan tujuan dan fokus hidupnya; harus dengan cara apa kita berkontribusi untuk Negeri? Ini salah satunya.

Seringnya terbentur dalam kehidupan, menghadapi realita yang kadang tidak sesuai keinginan membuat seseorang berpikir mendalam. Seperti yang dikatakan oleh Gobind Vashdev seorang heartworker bahwa, “suka cita membuat kita melihat ke luar (apreasiasi, respon dunia). Namun dari duka cita membuat seseorang melihat ke dalam dirinya (merenung, memahami panggilan hati, keinginan diri).” Maka dari itu, seyogianya seseorang patut bersyukur saat menghadapi duka cita atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Karena dari situ justru seseorang bisa belajar banyak hal dan yang lebih penting bisa berproses sesuai jalan dan waktunya sendiri. Secara pribadi, saya pribadi sudah membuktikan ini.

Sempat memaksa untuk menjadi sama dengan orang lain dan beberapa kali gagal membuat saya merenung, “di mana seharusnya saya berproses? Apa sebenarnya misi Allah menurunkan saya ke bumi? Untuk apa?” Dari situ kemudian muncul semacam panggilan hati; menjadi wirausaha sepertinya cara Allah memberi petunjuk lewat istikharah saat pertama kali saya mulai masuk perguruan tinggi. Flashback sejenak, sebelum memutuskan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tempat saya belajar saat ini, kala itu Allah memberikan petunjuk melalui mimpi untuk fokus pada bidang Manajemen Bisnis dan berjalan hingga semester tujuh ini.

Pernah mempunyai banyak mimpi dan berusaha eksekusi, namun karena beberapa factor, akhirnya gagal. Kemudian dalam renungan panjang akhirnya panggilan hati meminta untuk fokus pada bisnis yang saat ini sudah saya geluti. Setelah beberapa kali berusaha mendirikan sebuah usaha namun dengan perasaan yang tidak karuan, akhirnya Allah membelokkan ke mana fokus saya ditujukan; kuliner, di mana saya merasa benar-benar punya passion, senang menjalani dan menikmati setiap prosesnya tanpa tergesa dan tanpa tuntutan dari pihak mana pun. Beragam inovasi terus Allah kirimkan melalui hati dan pikiran untuk segera diaplikasikan dalam wirausaha ini. Dan benar saja memang, bahwa ketika kita menjalani apa yang Allah pilihkan maka ndelalah ada-ada saja jalannya!

Trial eror dalam dunia wirausaha memang menjadi sebuah keharusan. Dalam dunia wirausaha semuanya tidak ada yang pasti, apa yang terjadi beberapa menit ke depan tidak pernah ada yang tau. Bahan baku yang mendadak naik, customer yang membatalkan pesanan atau proses baking yang gagal padahal takaran sudah sesuai dan seperti biasanya. Semua kerumitan dalam wirausaha benar-benar menguji kedewasaan dan mental pelakunya. Rasa jenuh dan ingin menyerah jelas ada, namun kembali pada motivasi awal tiap pribadi untuk tetap bertahan pada apa yang sudah menjadi pilihannya.

Banyak cara berkontribusi untuk Negeri dan seyogianya itu semua kita sesuaikan dengan passion dan kapasitas kita. Tidak usah memaksa untuk sama dengan yang dilakukan orang lain, karena kita semua berangkat dan berasal dari misi Allah menurunkan kita ke bumi. Ada yang melalui gerakan sosialnya dapat memberikan impact untuk sekitar. Ada yang melalui penelitiannya sehingga dapat memberikan kontribusi dalam dunia sains dan teknologi, ada yang melalui wirausahanya dapat mempekerjakan banyak orang dan membantu menghidupi sekitar.

Pada akhirnya, setiap manusia Allah turunkan ke bumi membawa suatu misi. Sempat merasa insecure saat melihat orang lain sudah menemukan jati diri dan fokusnya sementara diri sendiri masih terombang-ambing dan bingung harus berproses di jalan mana. Selalu bertumbuh dan jalani “sesuai waktumu,” masing-masing.


Biografi Penulis

Aang Riana Dewi adalah Mahasiswi IAIN Kudus, jurusan Manajemen Bisnis Syariah.


Tak Ada Selingkuh dalam Open Relationship Oleh: Royyan Julian     “Selingkuh itu indah dan Tuhan suka yang indah-indah,” seloroh seorang kaw...


Tak Ada Selingkuh dalam Open Relationship
Oleh: Royyan Julian

    “Selingkuh itu indah dan Tuhan suka yang indah-indah,” seloroh seorang kawan. Mungkin ia bercanda. Atau tidak. Selingkuh barangkali memang indah. Selama tidak ketahuan, tentu saja. Sebaliknya, kepergok selingkuh bisa membuat sebuah hubungan seperti kapal pecah di tengah gelombang dan angin sakal.

    Maka open relationship bisa menjadi alternatif sebuah hubungan. Akan tetapi, tidak semua orang cocok mengamalkan open relationship. Open relationship hanya bisa dijalani mereka yang berjiwa bebas. Open relationship memiliki moralnya sendiri. Orang-orang normatif yang taat pada moral tradisional seperti hukum agama dan tata keluarga patriarki akan menganggap open relationship sebagai hubungan ganjil dan amoral.

    Open relationship (relasi terbuka) bisa dimaknai sebagai ikatan inklusif antara dua orang, baik secara emosional maupun seksual, yang memungkinkan pihak lain masuk dalam hubungan itu. Keterlibatan pihak ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya merupakan hasil kesepakatan yang bersangkutan. Open relationship menjadi solusi menarik bagi mereka yang jenuh dengan pola hubungan yang begitu-begitu saja.

    Dalam sebuah hubungan, baik perkawinan maupun non-perkawinan, manusia berkomitmen dengan manusia lainnya. Kontrak ikatan itu dijalin seumur hidup atau dalam tempo relatif lama. Singkatnya, ada janji yang membatasi. Persoalannya, tidak ada manusia yang sempurna. Dalam hubungan tersebut, seseorang, mau tidak mau harus bertoleransi dengan kekurangan pasangannya. Jika tidak, yang terjadi yaitu percekcokan, seperti pemutusan hubungan (dalam relasi pacaran) atau pisah ranjang, bahkan perceraian (dalam perkawinan).

    Jika sebuah hubungan berjalan dengan pola statis dan monoton, sedangkan relasi tersebut diikat oleh komitmen ketat, yang terjadi adalah rasa bosan. Kepatuhan terhadap kontrak ikatan mengharuskan seseorang menelan rasa jumud itu sepanjang hidupnya jika hubungan monoton tersebut terus bertahan. Orang-orang yang terjebak pada situasi demikian akan menjalani hubungan yang terpaksa hanya karena harus memikul tanggung jawab sebagai pasangan bermoral. Seperti semangkuk bubur dingin, hubungan keduanya hambar.

    Lalu di mana kebahagiaan yang dijanjikan sebuah hubungan cinta jika relasi keduanya dipenuhi drama? Bukankah orang punya harapan bahagia jika telah bersatu dengan belahan jiwanya? Atau jangan-jangan ekspektasi manusia terhadap sebuah hubungan memang berlebihan? Sebab kenyataan seringkali meleset dari yang ideal. Hubungan ideal mensyaratkan kedua orang yang menjalaninya adalah pribadi-pribadi ideal. Faktanya, tidak ada individu yang sempurna. Manusia, dengan segala kedaifannya, tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan manusia lainnya.

    Oleh karena itulah perkawinan, misalnya, bukan institusi yang dirancang untuk menuntun manusia ke bukit kebahagiaan. Jika perkawinan yang diangankan banyak orang mampu membawa manusia menuju kebahagiaan sejati, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, pengkhianatan, dan perceraian tidak mungkin ada. Dalam sejarah perjalanannya, motif perkawinan tidak seperti yang dibayangkan generasi bucin di mana lembaga tersebut cuma dibangun di atas fondasi tunggal: cinta. Dahulu, masyarakat menciptakan institusi perkawinan dengan motif macam-macam: ekonomi, diplomasi politik, mempertahankan ikatan darah, dan sebagainya. Kenyataannya, perkawinan saat ini—yang diimajikan sebagai lembaga yang dibangun karena cinta—juga masih menyisipkan motif nonsentimental seperti perkara keamanan atau stabilitas kedudukan dalam masyarakat. Perkawinan yang semata-mata dilandasi motif asmara hanya eksis di drama Korea.

    Open relationship dapat menjadi solusi toxic relationship. Open relationship tidak menyangkal bahwa manusia bisa berwatak poliamori yang bisa memiliki perasaan romantis kepada lebih dari satu orang. Bahkan, open relationship menyokong tabiat natural manusia (terutama laki-laki, sebagaimana kerabat primata lainnya) yang secara biologis ingin memiliki lebih dari satu partner—untuk menebar gen. Terlepas dari masalah moral, open relationship memfasilitasi kecenderungan tersebut secara jujur. 

    Namun, lebih dari sekadar persoalan cinta, open relationship mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan kompleks manusia. Jika tidak puas atas hubungan seksual dengan pasanganmu, kamu bisa mendapatkannya dari orang lain. Jika pasanganmu tidak bisa memberi cukup perhatian karena sibuk, orang lain bisa menyelamatkanmu dari bencana jablai. Jika partnermu tidak mampu memuaskan kebutuhan intelektualmu, barangkali orang lain bisa. Bahkan jika pasangan lawan jenismu tidak bisa menggenapi kebutuhan afektifmu, mungkin hubungan sejenis mampu memberimu kasih sayang. Secara tidak langsung open relationship mengakui dengan terus terang bahwa tidak ada manusia super yang mampu melakukan segala hal, sedangkan di sisi lain, seseorang layak mendapatkan apa yang diinginkannya.

    Maka, dalam open relationship, istilah selingkuh menjadi tidak relevan. Selingkuh adalah kosakata yang hanya ada dalam kamus hubungan tertutup di mana kamu hanya milikku dan aku cuma milikmu. Posesi total tersebut menuntut kesetiaan absolut. Sementara itu, hubungan bercabang yang terjalin dalam open relationship disepakati dengan asas keikhlasan dan rasa senang. Tidak ada perselingkuhan. Yang ada yaitu sikap rendah hati dan kesadaran bahwa kamu tidak bisa memenuhi semua kebutuhan pasanganmu.

    Bagaimanapun juga, layaknya hubungan konvensional, open relationship bisa jadi tidak berjalan mulus. Hambatannya bisa bermacam-macam. Yang mungkin relatif sulit diatasi yaitu “jebakan cinta sejati”. Jebakan cinta sejati bisa menjerat seseorang pada sikap posesif. Sikap posesif termanifestasikan dalam rasa cemburu. Cemburu barangkali memang sifat alamiah manusia yang sukar dihindari. Namun, ketika sudah menyepakati open relationship, orang-orang yang bermain di dalamnya mesti belajar cara efektif dan efisien mengelola rasa cemburu. Cemburu tidak selalu berdampak negatif, tetapi menanggulangi efek buruk cemburu perlu dilakukan agar akumulasi daya merusak yang ditimbulkannya tidak menjadi petaka. Bukankah open relationship dibangun untuk menghindari drama dan air mata?

Biodata Penulis
Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Bergiat di Sivitas Kotheka. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Syekh Raba (2019).